Pengalaman saya berkaitan dengan anak-anak, semuanya selalu menyenangkan.

Tunggu dulu…tidak semuanya.

Ada kalanya menyebalkan juga. Ya, pasti kita semua punya saat-saat menyebalkan dengan anak. Terutama saat anak rewel. Mulai dari setelah bangun tidur, masuk sekolah pertama kali, mau punya adik, atau apa lah. Nah, saya punya pengalaman dengan anak yang baru pertama kali masuk sekolah Playgroup.

Namanya kita sebut saja Donny. Usianya 2 tahun, memiliki mata yang bersinar cerdas. Sebagai seorang anak laki-laki, ia lincah dan sehat. Hari pertama masuk sekolah, ia diantar oleh pembantunya. Pembantunya itu, kalau saya bilang sih cukup tega juga. Tidak seperti pembantu lain yang selalu mengikuti kemauan anak karena takut dimarahi majikannya. Pembantu yang ini, pada saat hari pertama sudah ngebet ingin meninggalkan Donny di kelas tanpa ia temani. Otomatis, Donny nangis bukan kepalang. Padahal, kebijakan di sekolah itu membolehkan bagi anak baru untuk ditemani oleh significant others-nya pada 2 minggu pertama. Setelah itu, barulah para guru yang berjuang untuk membuat anak merasa nyaman di sekolah. Saya sempat bicara dengan pembantunya. Namun pembantunya berkata bahwa ia ingin agar Donny sesegera mungkin beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Akhirnya dicapai kesepakatan bahwa pembantunya harus stand by di luat kelas, sehingga guru dengan mudah bisa memanggilnya saat Donny ngamuk.

Sayangnya, hal itu hanya bertahan 2 hari. Pembantunya benar-benar meninggalkan Donny di kelas dan tidak mau stand by di luar kelas. Donny menangis tiada henti. Apa yang dilakukan para guru? Tidak ada. Guru-guru itu melanjutkan kegiatan mereka dengan murid-murid lain. Bernyanyi, belajar, menonton film. Tapi dalam setiap kegiatan, mereka selalu mengajak Donny. Hanya saja, mereka tidak memaksa Donny untuk ikut serta. Setelah dua minggu, pada saat anak-anak murid lain ingin menyanyikan lagu terakhir sebelum pulang sekolah, sang guru mengajak Donny untuk bergabung. Tak disangka-sangka, Donny menyambut uluran tangan gurunya dan ikut bernyanyi di depan kelas bersama teman-temannya, dengan wajah yang ceria seakan-akan dia sudah lama menjadi murid di sekolah itu. Hebat, kan?

Para orangtua tentu saja merasakan perasaan yang menyayat hati saat anak kita menangis. Ada perasaan cemas, apakah anak saya nanti bisa trauma pada sekolah? Apakah anak saya tidak mampu beradaptasi? Apakah sekolah ini bukan sekolah yang cocok untuk dia?

Jangan khawatir. Anak anda adalah anak yang hebat, karena telah memiliki orangtua seperti Anda. Selama 2-3 tahun pertama, Anda telah membekalinya dengan cukup sehingga ia akan mampu untuk mengatasi lingkungan baru. Anda telah mengajaknya untuk berjalan-jalan setiap pagi dan sore sehingga ia bertemu dengan teman-teman sebayanya. Anda juga telah berulang kali mengajaknya melewati calon sekolah barunya dan menjelaskan betapa asiknya bermain jungkat jungkit atau perosotan atau ayunan bersama teman-temannya. Kalaupun Anda tidak melakukan itu semua, sebagai anak manusia, anak Anda sudah dilengkapi dengan kemampuan untuk beradaptasi pada lingkungan baru. Ok, mungkin ia akan menangis, ngambek saat datang ke sekolah, bermimpi buruk di malam hari, atau menjadi sangat lengket dengan Anda. Yang Anda perlu lakukan hanyalah bersikap sedikit lebih tega. Biarkan ia mencoba. Mencoba berani, setidaknya. Dukunglah dia untuk melewati cobaan ini dengan menemaninya, dan bukan dengan menariknya kembali ke dalam pelukan Anda. Percayalah, semua ini setimpal dengan balasannya. (Arum Ismartini, Psi.)