Pernah dengar istilah di atas? Mungkin beberapa diantara Anda sudah pernah. Tapi bagi yang belum pernah, akan saya ceritaka  sedikit. Jadi, homeschooling secara singkat adalah menyekolahkan anak di rumah: schooling at home. Biasanya, orangtua yang menjadi guru atau orangtua mendatangkan guru ke rumah. Pelajarannya sama dengan apa yang diajarkan di sekolah, tapi karena proses belajarnya one on one, maka kita bisa mengendalikan sejauh mana anak belajar. Sedangkan untuk ujiannya, kalau di Indonesia bisa mengikuti ujian Paket yang sesuai dengan tingkat pendidikan anak.

Kali ini yang mau saya kemukakan adalah tentang to homeschool or not to homeschool. Beberapa hari lalu di akun Facebook, saya melihat kelompok orang yang berkampanye agar tidak menyekolahkan anaknya dengan sistem homeschooling. Alasannya, homeschooling dapat menghambat kemampuan anak untuk bersosialisasi. Selain itu, anak dinyatakan tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk dapat beradaptasi dengan  situasi baru, memecahkan masalah-masalah sosial, ataupun memiliki kemampuan untuk berbagi dan meminimalkan rasa egosentrisnya.

Tapi…apa benar begitu adanya? Mari kita bandingkan satu demi satu.

Beberapa orangtua yang menerapkan sistem homeschooling pada anak-anak mereka menyatakan bahwa sistem ini menghindarkan anak-anak mereka dari tugas-tugas sekolah yang berlebihan, memberikan kesempatan bagi anak untuk mendalami materi dan terhindar dari sikap guru yang mengejar target. Seringkali sekolah memberikan pekerjaan rumah yang banyak tanpa memperhatikan kemampuan anak. Kemudian anak diminta untuk mengumpulkan tugas tersebut keesokan harinya. Atau sebaliknya, sekolah sama sekali tidak membekali anak dengan tugas-tugas yang mumpuni sehingga anak dapat memahami pelajaran yang diberikan. Kedua situasi tersebut tentu saja sama-sama tidak menguntungkan bagi anak. Guru ingin mengejar target dalam jumlah bab yang telah diajarkan, namun hanya sedikit yang bisa dipahami anak karena kesalahan metode pengajaran.

Selain hal akademis, hal non-akademis juga menjadi masalah yang kerap muncul di sekolah. Kita banyak mendengar anak-anak yang menjadi malas sekolah, atau sebailknya menjadi nakal karena pergaulan. Banyak anak yang kehilangan rasa percaya diri karena menjadi korban bullying. Banyak juga anak-anak yang menjadi nakal karena merasa adanya tekanan teman sebaya untuk bergabung dalam gank mereka.

Namun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa menyekolahkan anak di sekolah memiliki beberapa keuntungan. Anak lebih up to date, karena memiliki teman-teman yang bisa memberikan mereka kabar terbaru tentang hal-hal yang menjadi minat anak. Selain itu, rasa kompetisi bisa muncul dengan adanya teman-teman di sekolah. Sekolah pun membuka banyak kesempatan untuk mengikuti perlombaan-perlombaan yang dapat memunculkan dan menyalurkan minat serta bakat anak.

Bagaimana dengan homeschooling?

Tanpa diduga, orangtua yang menerapkan homeschooling melihat bahwa anak-anak mereka bisa tetap bersosialisasi dengan baik. Mereka mengikutikan anak-anak mereka dalam kegiatan non-akademis seperti kursus atau sanggar. Malah, dengan bersosialisasi dalam kelompok kecil, anak bisa lebih menonjolkan kemampuan dirinya ketimbang bersosialisasi dalam kelompok besar. Sehingga, rasa percaya diri anak dapat muncul karena anak dapat merasakan “kemenangan kecil” atau “pujian kecil” dari kelompok kecilnya. Sesuatu yang tidak didapatnya saat disekolah bersama dengan teman-temannya. Dengan bersekolah di rumah, anak jadi lebih percaya diri dalam mengemukakan pendapatnya, karena ia berada dalam lingkungan yang familiar dan membuatnya nyaman untuk berpendapat. Tentu saja dengan syarat, orangtua atau mentor dapat bersikap demokratis dan menerima perbedaan pendapat. Dalam homeschooling, yang ditekankan adalah proses belajar dan bukan hasil belajar, walaupun hal itu juga penting. Jadi, anak bisa mendalami suatu materi dengan lebih jauh sesuai dengan kemampuan dan minatnya.

Selain itu, dengan homeschooling, hubungan orangtua dan anak juga diharapkan semakin dekat. Orangtua semakin mengenal anak dan anak pun semakin paham mengenai nilai-nilai kekeluargaan. Dengan demikian diharapkan agar anak dapat terhindar dari pengaruh-pengaruh peer pressure yang dapat menyesatkan.

Jadi, mau yang mana?

Kalau saya sih, dua-duanya. Tidak membantu?

Begini, saya tetap percaya dengan metode pendidikan konvensional, yang memasukkan anak ke sekolah dari pagi sampai siang. Tapi, tentu saja saya padukan dengan “menyekolahkan” anak di rumah pada sore hari. Bagi saya, pendidikan itu berawal dari rumah. Jadi, biasakan mendampingi anak belajar berapa pun usianya, kapan pun. Yah, mungkin semakin dewasa ia akan semakin mengembangkan belajar mandiri. Tapi jangan sungkan-sungkan untuk mengajak anak berdiskusi, berpendapat atau bertanya pada anak mengenai sesuatu yang kita tahu ataupun yang tidak kita tahu. Dengan bertanya apa yang kita tahu membuat kita bisa mengukur sejauh mana pengetahuan anak kita mengenai hal tersebut. Sedangkan dengan bertanya mengenai hal yang tidak kita ketahui, maka kita bisa mengenal dunia anak lebih jauh. Homeschooling menjadi booming sebagai metode pendidikan alternatif karena mengedepankan hubungan yang lebih intim antara orangtua dan anak. Dengan demikian diharapkan akan muncul keterbukaan yang dapat menghindarkan anak dari hal-hal yang tidak diinginkan. (Arum Ismartini, Psi.)