Mendisiplinkan anak memang topik yang selalu menjadi hangat dalam pembicaraan sehari-hari. Hal ini karena kedisiplinan berlangsung selama hidup anak, bahkan hidup kita sendiri sebagai orangtua mereka. Ada beberapa hal penting yang perlu kita lakukan dalam mendisiplinkan anak, yaitu:

  1. Harus dengan keinginan kuat. Mungkin bahasa lainnya adalah: musti tega. Yap. Dalam sehari-hari kita memang harus menunjukkan kasih sayang pada anak dengan memeluk, mencium atau hal-hal lain yang menyenangkan hatinya. Namun perlu diingat jangan sampai kita terlalu ingin selalu menyenangkan hatinya hingga menjurus pada memanjakannya. Bedanya memang tipis sekali. Jika kita membelikan alat tulis karena anak memang membutuhkannya berarti kita memang menunjukkan perhatian dan kasih sayang kita padanya. Namun bila kita membelikannya karena menuruti hawa nafsunya untuk mengikuti tren di kalangan teman-temannya, berarti kita memanjakannya. Dalam hal ini, kita harus menunjukkan tough love, dalam bentuk ketegasan untuk berkata “tidak”.  Jangan cepat-cepat meleleh karena anak berkata,”Ibu nggak sayang aku.” Sebenarnya, itu adalah ungkapan seorang anak yang belum paham akan makna tough love. Yang dia tahu selama ini adalah bahwa Anda, sebagai ibunya, selalu menunjukkan kasih sayang dengan menyenangkan hatinya. Dia belum paham bahwa kata “tidak” juga berarti kasih sayang. Nah, ini kesempatan yang tepat bagi Anda untuk sama-sama belajar, Anda belajar untuk berkata “tidak”, sedangkan anak belajar akan makna tough love yang Anda berikan.
  2. Harus konsisten. Maksudnya, jangan sampai hari ini Anda mensyaratkan nilai 9 untuk suatu hadiah, tapi kemudian membelikannya saat anak hanya memperoleh nilai 7. Ini namanya tidak konsisten. Hal ini membuat anak meremehkan janji yang kita ucapkan. Ekspektansi anak akan rendah, dan akhirnya ia tidak termotivasi untuk  mendisiplinkan diri. Jika anda menjajikan sesuatu, penuhilah janji Anda. Ini berlaku dalam semua hal, dengan kekecualian hanya pada keadaaan darurat. Bila anak memperoleh nilai 9, penuhilah janji Anda, dan jangan sekali-kali menambah syarat, seperti: “loh, maksud Ibu kalau kamu dapat nilai 9 sampai 5 kali…” Walah, anak bisa putus asa. Jika Anda tidak bisa memenuhi janji Anda saat itu, misalnya, kondisi keuangan sedang tipis karena akhir bulan, berterus-teranglah pada anak. Ajak bicara baik-baik, secara empat mata,bahwa Anda belum bisa memberikan hadiah saat ini karena sedang ada keperluan lain. Ingat untuk memberikan tenggat waktu kapan Anda bisa memenuhi janji Anda. Minggu depan? Bulan depan? Tapi jangan kelamaan, ya…
  3. Berikan imbalan atau ganjaran. Saat anak menunjukkan perilaku yang diharapkan, berikanlah imbalan. Tidak perlu mahal dan ribet, cukup tepukan di pundak, kecupan, atau pelukan. Ucapan bahwa Anda bangga padanya, senyuman yang tulus dan penuh kasih sayang juga mampu membuat anak manapun berbunga-bunga hatinya. Sesekali ajak ia makan di restoran atau belikan hadiah yang disukainya. Yang penting bagi kita sebagai orangtuanya adalah tidak berlebihan. Sesuaikan dengan perilaku yang ditunjukkannya. Hal yang sama juga harus diterapkan saat memberikan ganjaran. Ganjaran perlu sebagai rambu-rambu perilaku. Dengan demikian, anak belajar perilaku mana yang salah dan mencegahnya untuk mengulangi perilaku tersebut. Memberikan ganjaran tidak dengan memukul. Hukuman fisik cenderung dilarang dalam mendidik anak. Ganjaran dapat berupa teguran, pembicaraan empat mata, ekspresi wajah yang tidak menyetujui tindakannya, hingga hukuman dalam bentuk isolasi. Yang terakhir bukan berarti anak dikunci di kamar mandi seharian, tetapi bisa dalam bentuk menyuruh anak untuk duduk diam di kursi atau lokasi tertentu di dalam rumah selama beberapa menit. Namun, hukuman ini berlaku untuk anak-anak hingga usia 5 tahun. Pada anak-anak usia 6 tahun ke atas, isolasi bisa berbentuk larangan untuk bermain ke luar rumah dalam jangka waktu 3 hingga 5 hari. Atau, pada beberapa kasus, mengurangi uang jajannya selama beberapa hari. Setelah Anda memberikan ganjaran, ingat untuk bicara baik-baik pada anak mengenai perilakunya yang tidak disukai. Berikah pemahaman mengapa perilaku tersebut merugikan dirinya dan orang banyak. Setelah Anda memberikan pemahaman dan anak dapat mengerti, jangan lupa bahwa ganjaran bagi anak masih berlangsung. Walaupun masalah sudah selesai, tetapi anak perlu diingatkan untuk menerima konsekuensi perilakunya sesuai dengan perjanjian sampai selesai. Disinilah tough love dan konsistensi kita sebagai orangtua diuji.
  4. Contohkan kedisiplinan pada anak. Ini hal yang paling penting dari yang terpenting. Anak dapat berperilaku disiplin jika ia mendapat contoh kedisiplinan dari orang-orang terdekatnya. Sudah rumusnya bila anak akan meniru apapun yang dilakukan orangtua. Jadi, bila Anda ingin anak Anda disiplin, maka Anda harus mencontohkan kedisiplinan itu. Konsisten antara apa yang Anda ucap dan lakukan, dapat membuat anak paham bahwa Anda bersungguh-sungguh dengan apa yang Anda katakan, dan belajar bahwa disiplin itu penting dan semua orang melakukannya.

(Arum Ismartini, Psi.)