Akhir-akhir ini jika saya jalan-jalan ke toko buku, banyak sekali buku-buku baru yang terbit. Bahkan, beberapa ada yang ditulis oleh anak-anak usia sekolah! Hebat sekali, mereka. Zaman saya masih sekolah tidak pernah terpikirkan untuk menulis dan menerbitkan buku. Yang menulis dan menerbitkan buku adalah sastrawan atau politikus. Mungkin hal ini juga didorong oleh kampanye Gemar Membaca, terutama pada anak-anak yang pada akhirnya mendorong tumbuhnya penulis-penulis cilik yang karyanya sangat pas untuk segmen anak-anak usia sekolah.

Walaupun demikian, masih banyak anak-anak yang lebih senang menghabiskan waktunya bermain game di depan komputer. Memang harus kita akui, teknologi kini telah mengubah gaya hidup bahkan hingga ke level anak-anak. Anak-anak lebih suka menonton televisi, film, atau bahkan menghabiskan waktunya di dalam kamar depan komputer untuk menyelesaikan level terakhir melawan musuh yang paling jahat dalam game tersebut. Padahal, kegiatan-kegiatan tersebut dapat membatasi imajinasi anak. Anak tidak perlu lagi membayangkan dan menggunakan imajinasinya karena hasil kreatif telah terpampang jelas dalam televisi dan game komputer. Sebaliknya, dengan membaca, imajinasi anak bekerja untuk menterjemahkan kata-kata ke dalam gambar-gambar di otaknya. Imajinasi dapat berkembang dengan luas melalui membaca ketimbang hanya melihat gambar yang sudah jadi di televisi.

Selain mengembangkan imajinasi anak, membaca juga dapat menambah pegetahuan. Kalimat “Buku adalah Sumber Ilmu” bukanlah omong kosong belaka. Kita para orangtua juga pasti mengakui dan merasakan hal itu. Banyak hal-hal kecil yang kita bisa ketahui dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari ternyata diperoleh melalui membaca. Jika kita sudah paham dan tahu pasti besarnya manfaat membaca, yuk, kita wariskan ke anak-anak kita! Caranya:

  1. Contoh. Anak-anak harus kita beri contoh. Jika orang dewasa disekitarnya tidak menunjukkan kesenangan pada buku dan kegiatan membaca, kecil kemungkinannya anak-anak akan menyukai buku dan kegiatan membaca.
  2. Sediakan buku-buku yang menarik bagi anak Anda. Hal ini tentu sesuai dengan usianya. Pada usia dini, sediakan buku-buku dengan gambar dan warna yang menarik. Sementara pada usia sekolah, sediakan novel-novel mini dengan cerita yang menarik dan lucu.
  3. Luangkan waktu membaca bersama anak. Lamanya waktu dapat divariasikan sesuai dengan usia anak. Untuk anak-anak usia 1-3 tahun, luangkan waktu sekita 15-20 menit untuk membaca bersama anak. Sedangkan pada anak-anak usia 4-6 tahun, Anda bisa meluangkan sekitar 30 menit untuk membaca bersama anak. Mengapa berbeda-beda? Hal ini karena, semakin muda usia anak, semakin pendek rentang perhatiannya. Jadi, jika anak usia 1-3 tahun dipaksa untuk membaca lebih lama, ia akan mudah bosan dan akhirnya menganggap bahwa kegiatan membaca tidak menyenangkan.
  4. Tanamkan bahwa dengan mambaca anak jadi lebih tahu. Untuk anak-anak yang belum bisa baca, Anda bisa menempelkan label nama-nama benda pada benda-benda yang ada disekitar Anda. Misalnya Anda menempelkan label Lemari pada lemari pakaian, lalu minta anak untuk membacanya. Setelah anak melihat lebel dan ‘membacanya’ bersama Anda, katakan bahwa sekarang dia tahu cara membaca lemari . Jangan lupa beri pujian. Sedangkan pada anak-anak yang lebih dewasa, Anda bisa merujuk pada ensiklopedia atau browsing internet untuk mencari artikel atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul darinya. Misalnya anak bertanya, mengapa langit berwarna biru. Anda mungkin sudah tahu jawabannya, tapi luangkan sedikit waktu Anda untuk mengajaknya mencari jawabannya di dalam ensiklopedia. Hal ini sekaligus mengenalkan anak bahwa ada buku lain selain buku cerita, dan juga bahwa buku adalah gudangnya ilmu.
  5. Seorang ahli pernah memberikan triknya saat merangsang anaknya untuk mau membaca, dan saya ingin membagi trik itu dengan Anda. Saat beliau membacakan cerita pada anaknya yang berusia sekolah, ia tidak menyelesaikan cerita itu. Ia meminta anaknya sendiri yang membacanya sampai selesai. Katanya,”Kalau kamu ingin tahu akhir ceritanya, bacalah.” Memang agak menjengkelkan ‘digantung’ seperti itu. Namun trik itu berhasil dan dapat mendorong anak untuk membaca dan menyelesaikan cerita itu. Lama-kelamaan, minatnya terhadap kegiatan membaca dapat tumbuh.
  6. Cara lain adalah, meminta anak untuk menyelesaikan ceritanya sendiri. Setalah itu, ia dapat membandingkan akhir cerita yang dibuatnya dengan akhir cerita dari buku. Lebih seru yang mana? Sebagai orangtua memang kita harus kreatif dalam mendidik anak. Dengan demikian, anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Nah, semoga cara-cara di atas dapat Anda terapkan dan berhasil. Jika Anda memiliki tips dan trik lain, jangan malu-malu untuk berbagi pada kami disini.Selamat mencoba!

Arum Ismartini, Psi.