Saat kita mendengar tentang pendidikan seksual, yang terbayang dalam kepala kita adalah proses membuat anak. Well, sebenarnya bukan itu saja. Pendidikan seksual merupakan topik dengan cakupan yang sangat luas, termasuk pengenalan organ-organ seksual hingga penyakit-penyakit seksual yang dapat timbul akibat aktivitas seksual yang keliru. Proses membuat anak tercakup dalam topik-topik di atas.

Seringkali kita menemukan orangtua yang kebingungan saat ditanya oleh anak-anaknya mengenai isu seksual. Pertanyaan mereka sederhana, namun to the point. Namanya juga anak-anak…

Yang penting kita lakukan sebagai orangtua saat menghadapi anak-anak dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjurus ke isu seksual adalah:

  1. Jujur. Ini penting sekali untuk menciptakan rasa aman bagi anak. Dengan bersikap jujur dan menjawab pertanyaaan mereka apa adanya-sesuai usia mereka, tentunya-anak merasa bahwa orangtuanya bisa diandalkan dalam pencarian informasi mengenai isu seksual. Mana yang Anda pilih, menolak untuk menjawab pertanyaan anak, lalu ia mencari informasi ke orang lain-yang tentu saja akurasi dan cara penyampaiannya belum tentu sesuai, atau sambil malu-malu dan agak risi menjawab pertanyaannya lagi dan lagi-tapi ia berada dalam kendali Anda untuk masalah yang satu ini? Isu seksual adalah isu yang terus-menerus membangkitkan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, anak pasti akan bertanya lagi dan lagi. Akan repot buat Anda bila muncul sikap defensif Anda saat anak bertanya untuk pertama kali. Bisa saja pertanyaan kedua akan diajukan pada orang lain yang bisa mengarahkannya pada hal-hal yang tidak kita inginkan. Kejujuran juga bisa berarti jujur mengenai perasaan Anda saat membicarakan hal ini. Jika Anda malu, beritahu saja. Tapi, pertanyaannya tetap dijawab. Situasinya bisa seperti ini,”Sebenarnya Ibu agak malu menjawabnya, tapi begini loh…” Dengan Anda berterus terang mengenai perasaan Anda, anak dapat belajar memahami bahwa isu seksual adalah hal yang privat dan tidak bisa didiskusikan di waktu dan tempat yang sembarangan.
  2. Ciptakan suasana yang privat dan nyaman saat Anda membicarakan isu seksual dengan anak. Membicarakannya di tengah-tengah arisan keluarga atau supermarket tentu saja bukan tempat yang tepat. Namun jika anak mengajukan pertanyaan tersebut di saat yang kurang tepat, Anda bisa menunda menjawabnya dengan mengatakan,”Gimana kalau Ibu menjawabnya di rumah nanti? Malu, banyak orang…”. Ingat untuk menepati janji Anda jika anak menagihnya.
  3. Anda bisa memperkenalkan organ-organ seksualnya saat sedang mandi bersama si kecil. Gunakan bahasa dan ekspresi yang sesuai dengan usianya. Jika ia agak besar dan sudah mulai tumbuh rasa malu untuk mandi bersama, Anda bisa menanamkan nilai bahwa tubuh adalah bagian yang sangat privat. Tidak ada orang dewasa yang berhak untuk menyentuhnya, lalu menyuruh untuk merahasiakannya.

Membicarakan isu seks pada anak harus sesuai usianya. Hal ini penting agar anak mendapatkan informasi yang sesuai dengan pemahaman dan kebutuhannya. Kita tidak perlu menjelaskan bagaimana proses terjadinya bayi pada anak usia sekolah, toh? Jawab saja apa yang ditanyakan. Jika ia merasa perlu untuk mengetahui lebih lanjut, ia akan bertanya pada Anda kembali.

Isu seks pada anak usia pra-sekolah (2-5 tahun)

Tahap ini adalah tahap pengenalan dan penanaman moral. Kenalkan anak pada organ-organ seksualnya saat mandi. Beberapa artikel menyarankan untuk memperkenalkan nama-nama organ tersebut dengan nama aslinya, jadi vagina untuk perempuan, dan penis untuk laki-laki. Namun saya berpendapat lebih baik gunakan nama-nama yang dipahami anak, seperti orangtua Anda memperkenalkan nama bagian privat tersebut. Lakukan dengan cara yang santai, namun tanamkan juga bahwa bagian tersebut adalah bagian yang privat, dan malu bila terbuka serta terlihat orang lain.

Anak-anak usia pra-sekolah seringkali melakukan stimulasi (self-stimulation), dimana mereka bermain-main dengan alat kelaminnya. Hal ini wajar sekali, jadi jangan terlalu khawatir. Menurut Freud, pada tahap ini anak berada pada fase phallic, dimana anak mengembangkan rasa ingin tahunya terhadap alat kelaminnya. Yang harus Anda lakukan adalah memberikan pemahaman bahwa hal tersebut tidak patut dilakukan terutama di tempat umum. Frekuensi perilaku ini yang terlalu sering bisa mengindikasikan adanya kegelisahan dalam diri anak karena kurang perhatian, misalnya. Atau bisa juga ada indikasi ke arah kekerasan seksual yang dialami anak.

Pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali muncul pada anak-anak usia ini antara lain:

  • Bagaimana bayi bisa berada dalam perut Ibu?

Anda bisa menjawab,”Ayah sayang sekali sama Ibu dan begitu juga sebaliknya, lalu kami berdoa pada Tuhan agar diberikan bayi. Tuhan meniupkan bayi tersebut ke dalam perut Ibu. Awalnya bayi itu kecil sekali, namun ia tumbuh membesar seperti sekarang.”

  • Bagaimana bayi dilahirkan?

Jawaban seperti,”Dokter dan perawat yang membantu Ibu melahirkan,” biasanya cukup memuaskan. Namun jika ia masih bertanya, Anda bisa menjawab,”Ibu juga membantu mendorong agar bayinya bisa keluar.”

  • Kenapa dia punya penis dan aku nggak?

Anda bisa menjelaskan bahwa anak perempuan dan lelaki memiliki tubuh yang berbeda

  • Kenapa disana tumbuh rambut?

Jelaskan bahwa tubuh bisa berubah saat kita menjadi lebih dewasa. Anda bisa beri perumpamaan seperti ulat yang berubah menjadi kupu-kupu.

Isu seks pada anak usia sekolah dan pra-remaja

Pada usia ini, anak-anak sudah lebih memahami informasi yang kompleks. Jadi, Anda boleh lebih jujur mengenai organ intim mereka. Umumnya, hal-hal yang membuat mereka penasaran adalah perbedaan gender, perilaku seksual hingga kehamilan. Istilah seperti ‘pacaran’, ‘kiss‘, atau ‘married‘ akan Anda dengar dalam pergaulan anak Anda sehari-hari. Agak mengerikan, tapi percayalah, yang mereka ucapkan tak lain hanya ungkapan rasa penasaran mereka. Nah, Anda sebagai orangtua harus sering-sering berada di sampingnya saat mereka bertanya. Jika mereka tidak bertanya pun, pada usia ini, Anda boleh berinisiatif untuk bertanya lebih dahulu mengenai apa yang Anda dengar di sekolah. Anak Anda akan mendengarkan penjelasan Anda mengenai:

  • perubahan-perubahan yang terjadi dalam tubuh dan kondisi emosionalnya saat ia menjelang remaja. Terutama saat ia mulai merasakan suka pada lawan jenisnya.
  • Menstruasi
  • Bagaimana seorang perempuan bisa hamil dan proses kehamilan serta kelahiran
  • Penyakit-penyakit yang mungkin timbul dari perilaku seksual bebas
  • Aturan dan contoh-contoh dalam masyarakat mengenai perilaku seksual yang baik dan buruk

Saat membicarakan hal ini, pastikan bahwa komunikasi terjadi dua arah. Tanyakan pendapatnya, sehingga Anda bisa mengetahu bahwa nilai-nilai yang Anda tanamkan bisa diterima atau tidak. Anda juga boleh menceritakan bagaimana Anda dan pasangan Anda bertemu lalu jatuh cinta. Tapi jangan bercerita terlalu banyak, termasuk aktivitas seksual yang telah Anda lakukan. Topik itu cukup privat dan tidak boleh diceritakan pada orang lain.

Selain komunikasi dua arah, sikap non-judgemental (tidak menilai/menuduh) juga penting. Tidak perlu menggurui anak harus begini atau begitu. Tidak boleh ini dan itu. Jika Anda bersikap judgmental, maka anak akan defensif dan ogah untuk berbagi mengenai pendapat dan perasaannya pada Anda. Gunakan nada suara yang rendah, rileks namun tegas. Sulit, memang. Tapi Anda tidak sendiri, kok. Banyak orangtua yang sudah naik darah saat anaknya bertanya mengenai isu seks. Sekali lagi, itu tidak akan membuat anak lebih terbuka pada Anda. Jangan takut juga untuk berkata “Ibu tidak tahu jawabannya. Bagaimana kalau kita cari tahu bersama?”. Pada saat ini mungkin Anda ingin menggunakan alat bantu, seperti buku atau website.

Jika suatu waktu Anda tidak bisa membantunya mengenai pertanyaan-pertanyaan tentang isu seks, Anda bisa merujuk pada guru atau dokter sebagai tempat bertanya bagi anak. Tekankan bahwa jika anak bertanya pada teman-temannya, hal itu tidak akan membantunya karena mereka juga sama-sama belum paham mengenai masalah ini. Katakan juga bahwa topik-topik seperti ini memang lebih baik dibicarakan dengan orang dewasa tertentu.

Membicarakan seks harus disesuaikan juga dengan nilai-nilai yang Anda anut. Cari tahu mengenai resiko perilaku seks bebas atau hamil di usia dini bagi anak perempuan.  Sampaikan dengan cara yang paling mudah dimengerti anak, dan jadilah tempat mereka mengadu. Jangan biarkan anak-anak kita terperosok ke dalam perilaku seksual yang tidak normatif.

Arum Ismartini, Psi.