Betapa menyenangkan melihat pola tingkah anak-anak kita di rumah. Terkadang mereka menggoyang-goyangkan badannya mengikuti irama lagu yang sedang dimainkan. Atau bernyanyi-nyanyi dengan menggunakan apa pun yang bisa dijadikan microphone. Namun saat anak berada di sekolah, tiba-tiba tubuhnya mengkeret saat diminta ke depan kelas dan mengekspresikan dirinya. Kepalanya tertunduk malu, dan sama sekali menolak untuk tampil. Ada apa?

Anak-anak malu. Walaupun mereka beragajulan di rumah, namun begitu memasuki situasi baru, seperti sekolah, anak merasa asing dengan lingkungan barunya. Ia belum mengenal situasinya. Jadi, wajar jika ia sedikit ja-im. Ia harus memastikan, bahwa perilakunya tidak akan menimbulkan harga dirinya jatuh karena ditertawakan. Makanya, beberapa anak bisa termotivasi untuk tampil setelah melihat teman-temannya tampil, atau jika tampil bersama teman-temannya.

Alasan lain mengapa anak menolak tampil adalah takut untuk berbuat salah. Rasa takut ini dapat membuatnya ragu-ragu untuk tampil. Anak paham bahwa jika ia berbuat salah akan mendapat konsekuensi. Konsekuensi yang diperoleh biasanya adalah sanksi sosial, baik dari keluarga yang menonton atau dari teman-temannya. Bentuknya bisa berupa tertawaan dan ejekan ringan dengan maksud bercanda, sampai dicap bodoh. Ejekan-walau sifatnya ringan-tetap saja bernada negatif dan membuat anak menjadi malas untuk tampil kembali di lain kesempatan. Terlebih lagi jika kesalahan yang dibuatnya menyebabkan dirinya memperoleh cap bodoh. Jelas hal ini akan membuat anak tidak termotivasi untuk tampil dan malah membenci kesempatan untuk tampil.

Di bawah ini ada beberapa saran yang bisa Anda lakukan saat anak menolak untuk tampil.

  1. Sabar. Terkadang anak butuh waktu. Waktu untuk mengenal sekolah, teman-temannya dan guru. Anak perlu yakin bahwa ia berada dalam lingkungan yang aman dan tidak akan membuatnya malu. Anda sebagai orangtua dapat membantunya agar ia lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan. Mulailah bekerja sama dengan gurunya, minta ia lebih aktif dalam mendekati anak Anda dan mengajak anak Anda untuk berpartisipasi dalam semua kegiatan kelas. Di rumah, Anda bisa meluangkan waktu sejenak untuk berbicara secara intim dengan anak Anda. Tanyakan nama-nama temannya, seperti apa mereka, mana yang anak Anda sukai, dan sebagainya. Dengan demikian, akan timbul rasa ingin tahu dalam dirinya terhadap teman-temannya. Dorong anak Anda untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelas.
  2. Beritahu hal-hal yang bisa ia dapat jika ia mau tampil. Misalnya saja, ia akan dapat konstum yang lucu dan indah-indah jika ia ingin tampil dalam drama sekolah. Atau akan mendapatkan baju baru yang bisa dipakainya saat pentas menyanyi di sekolah. Hal ini bisa jadi merupakan reward tesendiri bagi anak.
  3. Selalu ciptakan suasana yang positif dalam kesehariannya. Terutama saat sekitar pementasan. Bukan hanya menjelang, namun suasana positif setelah pementan juga memegang peranan penting dalam membangun rasa percaya diri anak. Tenangkan dirinya sesaat sebelum pementasan. Yakinkan dirinya bahwa Anda akan berada di barisan penonton untuk menyemangatinya. Meninggalkannya bersama teman-temannya yang ikut pentas mungkin dapat membantunya mengatasi rasa gugup, ketimbang ia terus-menerus bersama Anda dalam zona nyaman. Tidak perlu merasa bersalah saat Anda mendengarnya menangis, meminta Anda untuk tetap bersamanya. Tenangkan hatinya, beri sedikit elusan pada punggungnya dan kecupan di pipinya lalu katakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja, dan jika Anda terus berada di sampingnya, siapa yang akan memotretnya nanti?
  4. Setelah pementasan, puji anak Anda walaupun ia melakukan kesalahan paling banyak. Berapa pun usia anak Anda, jangan sekali-kali Anda mengkritiknya setelah pementasan. Lakukan nanti atau besok atau lusa. Tapi tidak setelah pementasan. Jika anak Anda masih berusia TK atau SD, puji keberaniannya, dan Anda sangat menantikan pementasan selanjutnya. Jika anak Anda sudah lebih dewasa, puji penampilannya, bahwa ia keren dan beri ia selamat. Jika Anda merasa perlu memberikan kritik, lakukan secara santai, dalam situasi yang tidak menekan dan saat anak Anda berada pada suasana hati yang baik. Anda bisa memulai dengan pertanyaan, ‘gimana perasaan kamu saat tampil kemarin?’ atau ‘apa komentar teman-teman kamu atas penampilan kamu?’. Hindari pertanyaan awal seperti ‘menurut kamu, kamu melakukan kesalahan, tidak?’ Sebisa mungkin, anaklah yang berinisiatif untuk mengkoreksi dirinya. Jika ia menyadarinya, katakan bahwa itu adalah bagian dari pembelajaran dan sangat normal membuat kesalahan.
  5. Jika anak gagal saat pementasan, tenangkanlah hatinya. Jika mungkin, alihkan perhatiannya untuk sementara. Beri ia waktu untuk menyendiri sebentar, dan melakukan refleksi diri. Setelah itu, Anda dapat menenangkan hatinya dengan mengingatkan bahwa semua orang melakukan kekeliruan. Katakanlah bahwa Anda bangga anak Anda telah berani mencoba, karena itulah yang terpenting. Seringkali orang melewati kesempatan emas karena mereka terlalu takut untuk  mencoba. Semangati dirinya untuk kembali mencoba tampil di lain waktu.
  6. Jangan sekali-kali berpikir untuk protes pada pihak lain atas kegagalan anak Anda. Bagaimanapun kegagalan merupakan jembatan untuk menjadi diri yang lebih baik, sehingga gunakanlah kegagalan itu untuk mengevaluasi diri sendiri terlebih dahulu.

Sangat penting bagi Anda sebagai orangtua untuk menjadi partner anak dalam suka dan duka. Saat suka, tunjukkanlah rasa bangga Anda dalam kadar yang cukup dan tidak berlebihan. Sehingga anak tidak melihat Anda berbangga hati dan cenderung menyombongkan diri. Ucapkanlah syukur, dan ingat bahwa berkah ini datang dari Tuhan.

Saat duka, tunjukkanlah rasa sedih Anda dalam kadar yang cukup juga. Berdukalah bersamanya, bukan karenanya. Beri dia semangat untuk melewati kesedihannya, dan tunjukkan kebanggaan Anda padanya atas keberaniannya.