Halaman ini menampilkan semua pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke email prima.konsultasi@gmail.com. Semua pertanyaan yang ditampilkan telah mendapatkan persetujuan dari yang bersangkutan. Nama dan informasi pribadi lain disamarkan untuk menjaga privasi.

Arum Ismartini, Psi.

MENANGIS MALAM

Bu, saya memiliki 2 orang anak. Yang pertama berusia 2thn 5 bln dan yg kedua 8 bulan. Akhir-akhir ini kakaknya sering menangis di malam hari dan kalau mamanya menggendong adiknya, dia terkadang menangis dan minta gendong juga. Biasanya, setelah diberi susu dia terdiam, namun ternyata harus diet karena menurut dokter putra pertama saya itu mengalami obesitas. Akhirnya saya kurangi volume susunya. Saat berusia 1,5 tahun, ia pernah mengalami kecelakaan dan mengakibatkan luka bakar 10% di tangannya. Setelah kejadian tersebut, ia masih menangis dan suka mengigau saat malam. Apakah ia mengalami trauma sehingga sering menangis malam, atau dia cemburu dengan adiknya?

Bagaimana caranya menghentikan kebiasaannya menangis malam? Terima kasih sebelumnya.

Pak K di Jakarta

Pak K di Jakarta,

Sebab anak menangis bisa bermacam-macam, Pak. Lapar/haus, butuh dekapan, sakit, atau banyak faktor lainnya. Sudah berapa lama Bapak mengurangi volume susunya? Mungkin juga, ia menangis karena masih belum terbiasa dengan volume susu yang lain dari biasanya. Namun demi alasan kesehatan, saya pikir tidak apa-apa jika diteruskan. Atau mungkin kekurangan susunya bisa diganti dengan jus? Konsultasikan ke dokter dulu, ya Pak. Bagaimanapun, putra Bapak perlu adaptasi dengan kebiasaan ini. Nah, mungkin ia menangis sebagai bentuk protes karena susunya dikurangi.

Faktor trauma juga bisa menimbulkan rasa tidak nyaman dalam dirinya sehingga akhirnya ia menangis. Pada awalnya, putra Bapak menangis mungkin karena lapar. Namun setelah mengalami trauma, bisa jadi hal itu membekas dalam dirinya sehingga ia mengalami mimpi buruk. Akhirnya, ia mengigau dan terbangun dengan menangis. Ditambah lagi ada kemungkinan hadirnya adik baru saat ia baru mengalami kecelakaan, sehingga mungkin ada rasa cemas dalam dirinya.

Sebelumnya, putra bapak mendapat perhatian penuh dari kedua orangtuanya. Kemudian setelah lahir sang adik, dia harus membagi perhatian dan kasih sayang orangtua dengan adiknya. Bukan berarti kasih sayang dan perhatian yang bapak dan ibu berikan itu berkurang, tapi sepertinya muncul rasa tersaingi dalam dirinya dan hal itu membuat dia tidak nyaman. Pada anak-anak lain, rasa tidak nyaman bisa diekspresikan dalam bentuk perilaku yang lain dari biasanya, seperti rewel, membantah atau perilaku lain yang menurutnya dapat menarik perhatian kedua orangtuanya. Nah, kebetulan pada putra bapak yang muncul ada nangis pada malam hari.

Sepertinya, Pak, ia menangis pada malam hari karena menurutnya saat malam hari itulah ia merasa paling banyak mendapat perhatian. Dulu, ia digendong juga jika terbangun pada malam hari. Sekarang, bapak ibunya berpikir dia sudah cukup besar dan tidak perlu digendong. Tapi, ia sebenarnya masih mau mendapat perlakuan yang sama dengan adiknya. Kalau dia bisa mengekpresikan pikirannya, mungkin dia akan berkata,”Adik digendong, kok aku nggak? Padahal dulu aku digendong juga?” Kira-kira begitu, Pak.

Saran yang bisa saya berikan adalah luangkan waktu lebih banyak dari biasanya dengan putra bapak itu. Mungkin bermain atau menemani ia beraktivitas lebih lama, tanpa kehadiran adiknya. Hal ini bisa membuat ia tetap merasa diperhatikan.

Sambil beraktivitas bersama putra Bapak, bisa juga diberikan pengertian kalau bapak dan ibu sayang padanya. Mungkin sesekali dilibatkan dalam mengurus adik juga membantunya merasa sebagai kakak yang hebat. Tidak perlu hal-hal yang canggih, tapi membantu atau malah terlihat membantu sudah membuat ia merasa lebih nyaman. Misalnya saja, membantu membasuh minyak telon pada tubuh adiknya setelah mandi. Jadi, setelah ibunya memberikan minya telon, bisa teteskan sedikit pada telapak tangan putra bapak kemudian ia yang mengusapnya. Setelah itu, bapak dan ibu bisa puji dia karena sudah membantu. Pasti dia senang, deh…

Kalau boleh tahu, apakah adik dan kakak tidur satu kamar? Kalau ya, mungkin memisahkan mereka bisa membantu agar kakaknya tidak terbangun saat adiknya terbangun.

Tantangannya terletak pada kesabaran sebagai orangtua untuk mengatur agar si sulung tidak merasa terabaikan. Kita tidak bisa mengetahui dengan pasti mengapa anak menangis. Kecuali, jika ia sudah bisa berkomunikasi dengan kita. Buat ia senyaman mungkin, se-happy mungkin. Kalau ia merasa nyaman dan happy, kecemasannya bisa berkurang bahkan hilang. Sehingga tidurnya pun akan lebih nyaman.

Demikian saran dan penjelasan saya. Semoga berkenan.

Arum Ismartini, Psi.

AKU CEMBURU

Saya memiliki anak laki-laki berusia 4 tahun. Nah, saat ini saya baru saja melahirkan anak kedua. Tentu saja sebagai ibu yang baru saja melahirkan, perhatian saya lebih terfokus pada anak kedua yang baru berusia 1 bulan. Namun sepertinya, anak pertama saya tidak bisa menerima sikap saya. Ia lebih sering ngambek dan marah bila saya tidak bisa memenuhi keinginannya. Padahal, menurut penilaian saya, iatermasuk anak yang mandiri. Apakah ini berarti ia cemburu pada kehadiran adik barunya? Karena pada saat adiknya itu lahir, ia terlihat senang sekali. Bahkan ia berulang kali bercerita pada teman-temannya di sekolah tentang adik barunya. Jika ia memang cemburu, bagaimana saya sebagai orangtuanya harus bersikap?

Terima kasih atas tanggapannya.

Ibu X di Malang

Ibu X,

Selamat ya, atas kelahiran anak Anda yang kedua. Semoga sehat selalu dan bisa menjadi anak yang berguna bagi masyarakat.

Sepertinya dugaan Ibu benar, bahwa anak sulung Ibu merasa cemburu. Ini adalah reaksi yang wajar terjadi pada anak-anak. Walaupun pada awalnya Ibu melihat bahwa Si Sulung begitu senang dan bangga akan kehadiran adik barunya, namun sebagai anak yang berusia 4 tahun, ia masih mengembangkan kemampuan untuk mengantisipasi kejadian yang akan datang. Dengan kata lain, ia sama sekali tidak menyangka bahwa nanti, ibunya akan memberikan perhatian yang lebih besar pada adik kecilnya. Ia belum memahami dengan baik konsekuensi dari hadirnya seorang adik.

Nah, ada beberapa hal yang bisa Ibu lakukan, seperti:

  1. Melibatkan Si Sulung dalam mengasuh adiknya. Misalnya saja dengan memintanya mengusap adiknya dengan handuk sehabis mandi, atau membalurkan minyak telon di tubuh adiknya, atau menyisir rambut adiknya. Usahakan bantuan yang ia harus berikan dalam bentuk kontak fisik dengan adiknya, sehingga bisa meningkatkan kontak batin antara kakak dengan adik. Sebisa mungkin hindari meminta tolong Si Sulung untuk menyiapkan baju, atau mengambilkan ember karena dapat membuatnya merasa seperti pesuruh dan adik kecilnya adalah raja.
  2. Memberikan penguat positif atas hal-hal yang telah Si Sulung lakukan dalam hal apapun, baik itu berhubungan atau tidak dengan adiknya. Penguat positif adalah hal-hal yang membuat seseorang merasa ingin mengulang perilaku yang positif. Misalnya saja pujian, dukungan, tepukan pada bahu atau ciuman kecil. Sesuatu yang membuat seseorang merasa bahwa perilakunya diterima dengan baik. Jadi jika Si Sulung bercerita tentang teman-temannya di sekolah, Anda harus mencoba untuk mendengarkan. Atau jika ia membantu Anda mengasuh adiknya, berikanlah ciuman tanda terima kasih. Berikanlah penguat positif itu sesegera mungkin setelah ia melakukannya sebagai “bayaran” baginya, sehingga ia bisa menghubungkan penguat positif yang Anda berikan terhadap perilakunya (Oh, saya dipuji mama karena telah membantu mengasuh adik).
  3. Sebisa mungkin aturlah waktu Anda, sehingga Anda bisa memiliki waktu berdua dengan Si Sulung. Hal ini penting agar Si Sulung tidak merasa tersingkirkan setelah kehadiran adiknya. Hal kecil seperti mendengarkan ceritanya, atau cerita Anda padanya akan sangat berarti baginya.

Mudahan-mudahan saran-saran diatas bisa bermanfaat bagi Ibu.

(Arum Ismartini, Psi.)

LAMPU HIJAU UNTUK NGE-DATE

Temen-temen di sekolah udah pada punya pacar, atau minimal gebetan lah yang tiap malem minggu dateng ke rumah untuk PDKT. Aku? Boro-boro! Setiap kali pulang telat pasti yang ada ditanyain macem-macem sama bokap ato nyokap. ‘Kemana aja kok pulang telat?’ atau ‘Siapa tuh?’ atau ‘Sama siapa? Kok ada cowoknya? Siapa dia? Anak mana?’ dan sederet pertanyaan lain yang nggak perlu. Sebel, nggak sih? Kayak maling aja diinterogasi.

Yah, sebenernya aku punya gebetan nih, dan kebetulan dia juga kayaknya suka sama aku. Dia udah nanya boleh nggak main-main ke rumah. Aku sih belum jawab, abisnya ketakutan duluan mikirin reaksinya bonyok. Ntar diinterogasi duluan deh…jadi patah semangat, nih…

Gimana ya, supaya bonyok nggak cerewet gitu? Kan rada malu-maluin…ntar kalo bonyok cerewet di depan gebetanku, terus dia cerita-cerita sama temen-temennya gimana? Apa mendingan aku sama dia nggak usah ketemuan di rumah, ya? Kan ketemuan bisa dimana aja, di mall misalnya. Atau di cafe. Daripada aku diinterogasi n akhirnya jadi malu…

Please help…

Devi, Surabaya.

Hai Dev…

Aduh, asiknya punya gebetan! Apalagi kalo ternyata gebetan kamu juga suka sama kamu.

Dev, yang ngalamin kayak kamu tuh nggak cuman kamu aja. hampir 90% remaja seusia kamu, apalagi cewek, ngalamin persis kayak kamu. Orangtua emang suka berlebihan kalo nanya tentang temen-temen kita. Kamu tahu kenapa? Yap! Karena mereka bener-bener sayang sama kamu dan nggak mau hal-hal buruk terjadi sama kamu. Klise, ya…tapi bener kok. Kalo mereka nggak sayang sama kamu, mereka akan ngebebasin kamu berteman sama siapa aja dan nggak peduli temen-temen kamu itu orang baik-baik apa nggak. Orangtua kayak gitu juga ada tuh…Buktinya ada aja cewek-cewek nggak bener.

Nah, kalo kamu pengen ortu berkurang cerewetnya, mungkin ada beberapa saran yang bisa kamu pertimbangkan.

Pertama, coba refleksi diri. Selama ini kamu sebagai remaja sudah memperlihatkan sikap dewasa belum sama ortu? Misalnya aja, tanggung jawab sama kerjaan kamu di rumah, contohnya ngerapiin kamar kamu, aja. Itu emang hal sepele, tapi kalo kamu mau nunjukkin itu, ortu jadi lebih adem hatinya, n bisa percaya sama kamu. Coba pikir-pikir lagi tanggung jawab kamu di rumah itu apa, terus kerjain dengan rutin. Ortu pasti ngeliat kalo kamu udah lebih dewasa n mungkin bisa lebih percaya sama kamu.

Kedua, deketin ortu kamu. Misalnya bantuin tugas-tugas rumah tangga. Nggak usah yang heboh-heboh, misalnya aja beresin meja makan sehabis makan malam. Atau bantuin naro piring-piring yang udah dicuci ke raknya…pokoknya yang kecil-kecil tapi keliatan sama ortu…Hal ini juga membantu kamu membentuk imej tanggung jawab di mata ortu.

Ketiga, cerita-cerita tentang temen-temen di sekolah. Nggak usah cerita tentang gebetan dulu (walopun bibir kamu pasti gatel pengen nyebut namanya!), cerita aja tentang siapa, kek…terus baru deh nyerempet-nyerempet cerita tentang gebetan kamu. Tapi jangan terlalu diekspos. Biasa aja. Kalo terlalu diekspos, takutnya ortu berpikir kamu udah jalan ‘terlalu jauh’ sama gebetan kamu itu. Padahal…boro-boro! Dengan kamu cerita, ortu jadi paham situasi apa yang kamu hadapin di sekolah. Semakin kamu terbuka sama ortu, semakin mudah kamu bisa dapet kepercayaan ortu.

Keempat, coba sharing sama temen-temen kamu tentang ortu kamu. Jangan salah, kamu bisa dapet tips and trick yang cihuy loh dari mereka. Jangan sekali-sekali berpikir untuk backstreet, karena hal itu nggak nyelesain masalah kamu. Yang ada kamu malah menambah masalah di kemudian hari. Ada juga cowok-cowok yang nggak bertanggung jawab, dan malah senang kalo backstreet karena mereka bisa memperlakukan kamu sesuai keinginan mereka dan nggak akan diketahui ortu. Nah, ini yang gawat, karena cowok itu tanggung jawab ato nggak bisa kita ketahui belakangan…

Kira-kira gitu, Dev…selamat mencoba ya! Ingat, penting buat kita untuk dapet support orangtua dalam hal apa pun. Karena, dengan adanya support itu kita bisa lebih bebas untuk berekspresi tanpa takut kehilangan arah. Mereka kan pernah remaja juga, jadi mereka punya ilmu yang lebih ketimbang kita.

Good luck!

(Arum Ismartini, Psi.)